1. Bantimurung

Terletak di Kabupaten Maros, sekitar 40 km dari Kota Makassar. Air
terjun ini merupakan objek wisata idola masyarakat di Sulawesi Selatan
yang sudah terkenal hingga ke seluruh dunia sejak kunjungan Alfred R.
Wallace pada tahun 1857, yang kemudian menamakan tempat ini 'The Kingdom
of Butterfly'.
Telah banyak fasilitas wisata yang tersedia di kawasan ini, yaitu
antara lain tersedianya fasilitas Guest House, Baruga Bantimurung, kolam
renang, shelter, pintu gerbang dan loket, jalan trail, kantor
pengelola, Butterfly Breeding, pusat informasi, toko cindera mata,
warung makan, fasilitas MCK, dan lain sebagainya.
Aktifitas wisata tirta di kawasan Air Terjun Bantimurung tersebut
dapat dirangkaikan pula dengan kegiatan penelusuran gua serta menikmati
keindahan warna-warni Kupu-kupu di habitat aslinya
Air Terjun Bantimurung berada di dalam kawasan Taman
Nasional Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan, sebuah nama yang asing
di telinga sampai seorang teman menyarankan agar saya pergi ke
Bantimurung untuk melihat penangkaran kupu-kupu yang juga terbang bebas
di sana. Namun sayang, tidak banyak
kupu-kupu yang terbang bebas sore itu, karena memang waktu terbaik
melihat kupu-kupu adalah pada pagi hari. Tak apalah karena ternyata ada
Air Terjun Bantimurung yang sangat indah di dalam kompleks itu.
Di
dalam kompleks, tidak jauh dari lokasi Air Terjun Bantimurung, terdapat
museum kupu-kupu berukuran kecil, yang koleksinya sudah mulai menua,
dengan bangunan serta tempat penyimpanan koleksi terlihat tidak terawat
dengan cukup baik. Bagaimanapun pemandangan di Bantimurung sungguh
cantik, dengan bukit kapur dan karang raksasa yang mendominasi
pemandangan, yang tampak seperti mahakarya instalasi Mahabesar yang
diatur dengan cantik di sebuah tanah luas yang datar.

Perbukitan kapur Bantimurung, dengan nama Taman Nasional Bantimurung
berukuran besar terpahat pada dindingnya terlihat di latar belakang.
Jika sudah melihat tanda ini, maka Air Terjun Bantimurung sudah dekat.

Pada percabangan jalan yang menuju ke Air Terjun Bantimurung, pengunjung
disambut dengan sebuah patung kupu-kupu dan monyet dalam ukuran sangat
besar. Keduanya adalah merupakan ikon penting Taman Nasional
Bantimurung.

Pendar matahari sore di sela dedaunan pohon yang rimbun di dalam Taman
Nasional Bantimurung, tidak jauh dari Air Terjun Bantimurung. Taman
Nasional Bantimurung, dimana Air Terjun Bantimurung berada, dikelilingi
oleh bukit karang tinggi dengan kemiringan curam, dan banyak pepohonan
rindang yang tumbuh diantara karangnya.

Sebuah ceruk di bawah batu karang kapur raksasa, yang bisa digunakan
untuk berteduh ketika hujan jatuh atau saat panas matahari menyengat, di
sebelah kiri jalan menuju Air Terjun Bantimurung. Struktur batu karang
kapur di Bantimurung memang sangat unik, seperti teronggok begitu saja
di atas tanah datar.

Aliran air jernih dengan bentuk sungai indah di tengah kerimbunan
pepohonan, yang merupakan kelanjutan dari aliran Air Terjun Bantimurung.
Berbeda dengan kebanyakan air terjun yang lain, pengunjung tidak perlu
turun ke lembah untuk melihat Air Terjun Bantimurung.

Pantai Lumpue adalah salah satu objek wisata domestik yang tertua dan
cukup populer di Sulawesi Selatan. Tempatnya berada di kota Pantai
Parepare berjarak sekitar 150 Km dari kota Makassar. Lokasi pantainya
tidak jauh dari pinggir jalan poros Parepare sehingga tidak sulit untuk
menemukannya.
Pantai Lumpue memiliki keunikan pariwisata lokal yang tradisional,
fasilitasnya tidak terlalu mentereng seperti pada umumnya objek wisata
lainnya. Namun keindahannya tidak kalah menarik, air lautnya bening
dengan pasir pantai halus kecoklatan, suasananya tenang dan bersih.
Dibagian ujung pantai, terdapat pegunungan karang dengan gua-gua kecil.
Kawasan pantai ini sangat cocok dengan akhir pekan keluarga karena
lingkungannya sangat familiar. Kendati pengelolaan fasilitasnya minim,
pantai Lumpue sampai sekarang masih menjadi pilihan utama tempat wisata
domestik terutama masyarakat setempat. Kadang lokasinya digunakan
sebagai tempat penyelenggaraan even-even reuni dan family gathering.
Lingkungannya memang cocok dengan model even seperti itu.
Lumpue sejak tahun 50-an sudah dikenal di Sulawesi Selatan, Dulunya
pantai ini dijadikan sebagai tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan
usai mencari ikan dilaut lepas. Menurut cerita pak Hamid, seorang
pengunjung setia pantai Lumpue, ” Saya sudah sering main ke pantai ini
sejak tahun 1951, waktu itu saya masih kanak-kanak. Saya masih ingat,
kalau sudah menjelang sore hari, perahu sudah banyak berkumpul ditempat
ini. Jika dilihat dari kejauhan mirip kumpulan kupu-kupu raksasa,”
kenangnya. Makanya dulu pantai Lumpue ini diberi nama oleh pak hamid dan
teman-temannya yaitu Pantai kupu-kupu.Menurutnya, nama julukan itu
sempat populer dikalangan remaja waktu itu.
Ketika kawasan perkampungan pantai Suppa diwilayah ujung Lero Pinrang
dibuka tahun 70-an , pemukiman nelayan berpindah besar-besaran ke
wilayah tersebut dan lambat laun pantai Lumpue pun perlahan menjadi sepi
dari “kupu-kupu pantai” yang biasanya menari-nari diatas ombaknya
setiap menjelang sore.
Menurut beberapa pengunjung pantai Lumpue, suasana dan tempat di
pantai ini tetap tidak pernah berubah sama sekali meski ditahun 80-an
pernah ditambahkan fasilitas pendukung tapi tidak mampu merubah
komposisi alamnya. Pantai lumpue masih tetap asri dengan berbagai
keunikan tradisionalnya yakni tenda bambu dan kayu, sumur alami dan
keramahan penduduknya. Meski kupu-kupu pantainya sudah hilang,
kenangannya masih kuat bagi sebagian masyarakat di sulawesi Selatan.









Pantai
Bibir adalah salah satu pantai indah yang ada di Kota ParePare Sulawesi
Selatan, menunjuk kearah selatan kota, tepatnya di sekitar persimpangan
antara Jl.Bau Massepe dan Jalan Mattirotasi.Pantai ini sangat indah
terutama pemandangan sunset pada pagi atau sore hari...Apalagi pantai
disekitra teluk pare2..sangat indah dan romantis sehingga pantai ini
banyak dikunjungi anak2 muda dan wisatawan..